
Arsip adalah rekaman informasi yang memiliki nilai guna baik secara administratif, hukum, maupun historis. Di instansi pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, hingga organisasi kemasyarakatan, arsip menjadi tulang punggung tata kelola yang baik. Namun, satu ancaman yang kerap diabaikan adalah kerusakan fisik akibat air dan jamur.
Bayangkan ribuan lembar dokumen penting kontrak kerja, laporan keuangan tiba-tiba berubah menjadi tumpukan kertas basah dan berjamur pasca banjir atau kebocoran atap. Bukan hanya kerugian materi, tetapi juga kehilangan bukti hukum yang tidak ternilai harganya.
Menurut berbagai kajian manajemen arsip, kelembapan yang tidak terkontrol adalah penyebab utama kerusakan koleksi arsip kertas di negara-negara tropis seperti Indonesia. Kondisi iklim dengan curah hujan tinggi dan suhu hangat sepanjang tahun menjadikan arsip sangat rentan terhadap kerusakan biologis.
Kerusakan arsip akibat air dan jamur jarang terjadi secara tiba-tiba. Lebih sering, ini adalah akumulasi dari kondisi lingkungan yang tidak terjaga dalam waktu lama. Berikut faktor-faktor utamanya:
A. Kelembapan Udara yang Tinggi
Indonesia memiliki tingkat kelembapan relatif (RH) rata-rata antara 70–90%. Standar internasional untuk penyimpanan arsip kertas merekomendasikan RH di bawah 55%. Ketika udara terlalu lembap, serat kertas menyerap uap air dari udara secara perlahan. Proses ini melemahkan struktur kertas, menyebabkan warna memudar, dan menciptakan media tumbuh yang ideal bagi jamur dan bakteri.
Bencana air adalah ancaman paling berbahaya. Banjir dapat merendam seluruh ruang arsip dalam hitungan jam, sementara kebocoran atap yang kecil pun jika tidak segera ditangani bisa merusak ratusan dokumen selama berbulan-bulan tanpa disadari. Air yang meresap ke dalam box arsip atau lemari akan mempercepat tumbuhnya jamur dalam 24–48 jam pertama.
Ruang penyimpanan yang tertutup rapat tanpa sirkulasi udara yang memadai menciptakan kantong udara lembap. Udara stagnan tidak hanya mendorong penumpukan kelembapan, tetapi juga memperparah penyebaran spora jamur yang sudah ada. Lemari arsip logam yang tertutup rapat, misalnya, justru bisa menjadi perangkap kelembapan bila tidak dilengkapi ventilasi.
Jamur seperti Aspergillus, Penicillium, dan Cladosporium adalah musuh utama arsip kertas. Spora-spora ini ada di mana-mana di udara dan langsung berkecambah begitu kondisi kelembapan dan suhu mendukung. Koloni jamur menghasilkan enzim yang secara aktif memecah serat selulosa pada kertas, menyebabkan kertas melunak, berbercak hitam/hijau, dan akhirnya hancur. Serangga seperti kecoa, ngengat, dan kutu buku juga sering ikut merusak dokumen yang sudah lembap.
Perubahan suhu yang drastis (dari dingin ke panas dan sebaliknya) menyebabkan kondensasi — titik-titik embun yang terbentuk di permukaan kertas dan lemari arsip. Kondensasi inilah yang sering menjadi pemicu awal kerusakan pada arsip yang tampak tersimpan di tempat yang 'kering'.
Kerusakan arsip tidak berhenti pada fisik dokumennya saja. Dampaknya menjalar ke berbagai aspek:
Penanganan arsip yang rusak akibat air dan jamur harus dilakukan secara sistematis, cepat, dan hati-hati. Berikut panduan langkah demi langkah:
Dalam 24–48 jam pertama setelah kontak dengan air, prioritas utama adalah menghentikan kerusakan lebih lanjut:
Tip penting: Jika jumlah dokumen basah sangat banyak dan tidak sempat dikeringkan dalam 48 jam, pertimbangkan teknik pembekuan (freezing). Masukkan dokumen ke dalam kantong plastik kedap udara dan bekukan. Ini menghentikan pertumbuhan jamur sambil memberi Anda waktu untuk penanganan lanjutan
Setelah dokumen cukup kering (tidak lagi basah kuyup), lakukan pembersihan jamur secara hati-hati:
Dokumen yang sudah dibersihkan dan dikeringkan mungkin masih perlu restorasi:
Pengalaman buruk ini adalah momentum terbaik untuk memulai digitalisasi. Arsip digital yang disimpan dengan benar tidak akan rusak karena air atau jamur:
Mencegah jauh lebih murah daripada memulihkan. Berikut standar yang perlu diterapkan secara konsisten:
Arsip basah dan berjamur bukan sekadar masalah kebersihan — ini adalah krisis manajemen informasi yang berdampak nyata pada operasional, hukum, dan sejarah sebuah institusi. Namun, dengan pemahaman yang tepat tentang penyebabnya dan langkah penanganan yang sistematis, kerusakan dapat diminimalkan bahkan dicegah sama sekali.
Kunci utamanya ada pada tiga hal: pengendalian lingkungan yang konsisten, sistem penyimpanan yang tepat, dan kesiapsiagaan menghadapi darurat. Ditambah dengan digitalisasi sebagai lapisan perlindungan tambahan, arsip Anda akan jauh lebih aman dari ancaman air dan jamur.
Jangan tunggu sampai arsip Anda rusak untuk bertindak. Mulailah hari ini dengan memeriksa kondisi ruang penyimpanan Anda, mengukur tingkat kelembapan, dan mengidentifikasi arsip-arsip yang paling perlu dilindungi. Tindakan kecil hari ini bisa mencegah kerugian besar di masa depan.